Hampir setengah jam berada di permukaan kasur. Katup mata ini tak
kunjung menutup. Segera kubuka laptop sembari menulis sesuatu yang bisa
ditulis. Beberapa saat yang lalu, saya masih mendampingi amir mahasiswa
STAINU Tunisia blusukan ke kedai kopi “Tigana” setelah sebelumnya
mampir di “mat’am jami” untuk menggenapi kebutuhan perut kami. Ada yang
menarik dengan diskusi di kedai kopi
tersebut. Terutama tatkala iklim politik turut membubuhi aroma kopi yang
tengah kami seruput. Aku yang notabene rabun terhadap politik, hanya
bisa menyimak kata demi kata yang membanjiri diskusi di siang bolong
tadi.
Barangkali pembaca mengira bahwa sang pencoret (penulis)
bakal mengupas mengenai demam politik yang sedang melanda warga negara
“bhineka tunggal ika”. Pun, kusanggah: “ tidak”. Aku lebih tertarik
membahas tentang kopi yang kami konsumsi. “ Ada apa dengan minuman satu
ini, mengapa minuman berenergi ini begitu dicintai oleh para penikmat
kopi?” pikirku menyambut rasa keingintahuan yang sedang menyelimuti
batinku.
Khalid seorang Abbisynia. Jangan mengaku pecandu kopi
kalau tahu sosok yang satu ini. Beliau adalah orang yang tidak sengaja
mengadopsi kopi menjadi sebuah minuman. Sekitar 800-850 SM beliau sedang
asyiknya menggembala kambing peliharaannya. Ajaibnya, kawanan kambing
miliknya masih terjaga setelah matahari terbenam setelah memakan buah
yang menyerupai buah beri. Kejadian tersebut menyulut rasa penasarannya.
Ia pun mengambil kemudian menyeduhnya. Perihal ini terus menyebar dan
tersiar ke daratan benua Afrika lainnya. Meskipun masih mempraktikkan
metode seduh tradisional. - Boleh jadi proses pengolahannya masih
menggunakan siku, lutut atau dengkul ketika menumbuknya.
Akar
kata kopi sendiri sebenarnya berasal dari bahasa arab “qahwah” (قهوة
), yang berarti kekuatan dan mengalami perubahan ke dalam bahasa Turki
“kahveh”, kemudian dalam bahasa Belanda disebut “ koffie”, kata inilah
yang diserap kedalam bahasa Indonesia dan termaktub dalam KBBI dengan
julukan “kopi”. Belanda lah yang pertama kali memperkenalkan kopi di
bumi Indonesia ketika mereka menduduki Tanah Air dalam status sebagai
penjajah.
Demikianlah maklumat singkat terkait asak muasal
munculnya kopi yang kini sering menemani rutinitas harian kita. -Suka
maupun duka. Lapang atau ngutang. Khitbah diterima atau bertepuk sebelah
tangan. Dan, di setiap keadaan selalu setia memanjakan lidah
penikmatnya. Bahkan dalam tidur sekalipun – dalam mimpi maksudnya,
dengan syarat baca doa dulu sebelum tidur, yang tidak baca doa, dapatnya
air comberan. Tidak heran kalau minuman ini sangat digemari oleh
berbagai kalangan tanpa memandang usia siapa yang menyeruputnya.
Anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Sekadar info, penulis masih bisa
dikatakan remaja,..... remaja yang dipaksakan.
(Kembali ke
kedai kopi Tigana) Bakda kuliah, bersama teman-teman, aku sering
menyambangi warkop tersebut. Disamping jaraknya dekat dari kampus, juga
tarifnya pas dengan kantong mahasiswa yang jauh dari orang tua. Mulai
dari duduk, seruput, ngobrol sampai teler, cukup dengan menebus 0,7 DT
setiap cangkirnya.
“Maqha”, yang dalam bahasa Indonesia
berarti warkop, merupakan tempat favorit yang sering dikunjungi penduduk
setempat. Disanalah, rangkuman dari berbagai sisi kehidupan
dipresentasikan. Hanya saja tanpa makalah dan tanpa dosen pembimbing.
Hadirnya segelas kopi ukuran 200 meliliter di atas meja berdiameter tak
lebih dari satu meter, mampu mengusir GALAU akibat wanita idaman di
kampung baru saja dipinang sahabat terdekat kita.
Dan, yang
unik adalah ukuran gelasnya. Ukurannya mini. Pertama kali melihat
wadahnya, kupikir akan habis dengan sekali teguk. Namun, dugaanku
keliru. Malah kutak kuasa menghabiskan ketika pertama kali mampir di
warkop yang menjadi langganan mahasiswa Indonesia tersebut. Rasanya yang
tak lazim membuat kopi ini awet dalam beberapa abad ke depan. Butuh
adaptasi untuk menyandang gelar sebagai penikmat kopi khas Tunis
tersebut.
Pun, menu yang disodorkan beraneka ragam. Mulai dari
“double expreso”, “expreso”, “caposan” dan “direct” . Makin kental
kopi yang disuguhkan, semakin nendang rasa yang ditawarkan. Bagi
mahasiswa baru, dianjurkan untuk mencoba “direct”. Jika tak ingin
mengerjitkan kening kala mencicipi menu yang lain. Mengecap yang lebih
pekat hanya akan mengantarkan peminumnya menuju lembah ke-mubadzir-an.
Hingga saat ini, aku masih berkutat pada kelas “direct” ataupun
“caposan”. Sesekali aku mencoba level yang lebih tinggi tapi bendera
putih selalu kunaikkan. Padahal ketika ada kelas, hampir aku tak pernah
luput untuk menyempatkan diri singgah ke kedai yang bertempat di bawah
rindangnya pohon beringin tersebut.
Malam kian larut, kantuk
mulai menyerang sang pencoret. Kutengarai, kopi yang kuhirup pada siang
harinya, tak lagi memberi pengaruh untuk kelangsungan tulisan ini.
Kuharap esok hari, lidahku masih diberi kesempatan untuk menjajal cairan
hitam yang tadi. Dengan dendangan kisah serta obrolan yang lebih
bermanfaat tentunya. Amin.
Minggu, 15 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar