Ahlan Wasahlan


Pages

Minggu, 15 Juni 2014

“Obat Pelerai Galau Ala Tunis”

Hampir setengah jam berada di permukaan kasur. Katup mata ini tak kunjung menutup. Segera kubuka laptop sembari menulis sesuatu yang bisa ditulis. Beberapa saat yang lalu, saya masih mendampingi amir mahasiswa STAINU Tunisia blusukan ke kedai kopi “Tigana” setelah sebelumnya mampir di “mat’am jami” untuk menggenapi kebutuhan perut kami. Ada yang menarik dengan diskusi di kedai kopi tersebut. Terutama tatkala iklim politik turut membubuhi aroma kopi yang tengah kami seruput. Aku yang notabene rabun terhadap politik, hanya bisa menyimak kata demi kata yang membanjiri diskusi di siang bolong tadi.

Barangkali pembaca mengira bahwa sang pencoret (penulis) bakal mengupas mengenai demam politik yang sedang melanda warga negara “bhineka tunggal ika”. Pun, kusanggah: “ tidak”. Aku lebih tertarik membahas tentang kopi yang kami konsumsi. “ Ada apa dengan minuman satu ini, mengapa minuman berenergi ini begitu dicintai oleh para penikmat kopi?” pikirku menyambut rasa keingintahuan yang sedang menyelimuti batinku.

Khalid seorang Abbisynia. Jangan mengaku pecandu kopi kalau tahu sosok yang satu ini. Beliau adalah orang yang tidak sengaja mengadopsi kopi menjadi sebuah minuman. Sekitar 800-850 SM beliau sedang asyiknya menggembala kambing peliharaannya. Ajaibnya, kawanan kambing miliknya masih terjaga setelah matahari terbenam setelah memakan buah yang menyerupai buah beri. Kejadian tersebut menyulut rasa penasarannya. Ia pun mengambil kemudian menyeduhnya. Perihal ini terus menyebar dan tersiar ke daratan benua Afrika lainnya. Meskipun masih mempraktikkan metode seduh tradisional. - Boleh jadi proses pengolahannya masih menggunakan siku, lutut atau dengkul ketika menumbuknya.

Akar kata kopi sendiri sebenarnya berasal dari bahasa arab “qahwah” (قهوة ), yang berarti kekuatan dan mengalami perubahan ke dalam bahasa Turki “kahveh”, kemudian dalam bahasa Belanda disebut “ koffie”, kata inilah yang diserap kedalam bahasa Indonesia dan termaktub dalam KBBI dengan julukan “kopi”. Belanda lah yang pertama kali memperkenalkan kopi di bumi Indonesia ketika mereka menduduki Tanah Air dalam status sebagai penjajah.

Demikianlah maklumat singkat terkait asak muasal munculnya kopi yang kini sering menemani rutinitas harian kita. -Suka maupun duka. Lapang atau ngutang. Khitbah diterima atau bertepuk sebelah tangan. Dan, di setiap keadaan selalu setia memanjakan lidah penikmatnya. Bahkan dalam tidur sekalipun – dalam mimpi maksudnya, dengan syarat baca doa dulu sebelum tidur, yang tidak baca doa, dapatnya air comberan. Tidak heran kalau minuman ini sangat digemari oleh berbagai kalangan tanpa memandang usia siapa yang menyeruputnya. Anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Sekadar info, penulis masih bisa dikatakan remaja,..... remaja yang dipaksakan.

(Kembali ke kedai kopi Tigana) Bakda kuliah, bersama teman-teman, aku sering menyambangi warkop tersebut. Disamping jaraknya dekat dari kampus, juga tarifnya pas dengan kantong mahasiswa yang jauh dari orang tua. Mulai dari duduk, seruput, ngobrol sampai teler, cukup dengan menebus 0,7 DT setiap cangkirnya.

“Maqha”, yang dalam bahasa Indonesia berarti warkop, merupakan tempat favorit yang sering dikunjungi penduduk setempat. Disanalah, rangkuman dari berbagai sisi kehidupan dipresentasikan. Hanya saja tanpa makalah dan tanpa dosen pembimbing. Hadirnya segelas kopi ukuran 200 meliliter di atas meja berdiameter tak lebih dari satu meter, mampu mengusir GALAU akibat wanita idaman di kampung baru saja dipinang sahabat terdekat kita.

Dan, yang unik adalah ukuran gelasnya. Ukurannya mini. Pertama kali melihat wadahnya, kupikir akan habis dengan sekali teguk. Namun, dugaanku keliru. Malah kutak kuasa menghabiskan ketika pertama kali mampir di warkop yang menjadi langganan mahasiswa Indonesia tersebut. Rasanya yang tak lazim membuat kopi ini awet dalam beberapa abad ke depan. Butuh adaptasi untuk menyandang gelar sebagai penikmat kopi khas Tunis tersebut.

Pun, menu yang disodorkan beraneka ragam. Mulai dari “double expreso”, “expreso”, “caposan” dan “direct” . Makin kental kopi yang disuguhkan, semakin nendang rasa yang ditawarkan. Bagi mahasiswa baru, dianjurkan untuk mencoba “direct”. Jika tak ingin mengerjitkan kening kala mencicipi menu yang lain. Mengecap yang lebih pekat hanya akan mengantarkan peminumnya menuju lembah ke-mubadzir-an.

Hingga saat ini, aku masih berkutat pada kelas “direct” ataupun “caposan”. Sesekali aku mencoba level yang lebih tinggi tapi bendera putih selalu kunaikkan. Padahal ketika ada kelas, hampir aku tak pernah luput untuk menyempatkan diri singgah ke kedai yang bertempat di bawah rindangnya pohon beringin tersebut.

Malam kian larut, kantuk mulai menyerang sang pencoret. Kutengarai, kopi yang kuhirup pada siang harinya, tak lagi memberi pengaruh untuk kelangsungan tulisan ini. Kuharap esok hari, lidahku masih diberi kesempatan untuk menjajal cairan hitam yang tadi. Dengan dendangan kisah serta obrolan yang lebih bermanfaat tentunya. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar