Ahlan Wasahlan


Pages

Minggu, 15 Juni 2014

Andalusia belum Tamat

Musik Tunisia (Malouf)

Tunisia adalah negara kecil yang terletak di belahan utara benua Afrika dan tergolong kawasan Maghrib Arabi. Layaknya Negara-negara lain pada umumya, negara ini juga memiliki keragaman budaya yang diwarisi secara turun temurun dari para pendahulunya. Catatan mengenai malouf berawal setelah penaklukan Spanyol di bawah kepemimpinan panglima perang Thariq bin Ziyad yang kemudian namanya diabadikan menjadi sebuah nama gunung “Giblatar” ( Jabal Thariq). Setelah Spanyol takluk, Islam berkembang pesat di Andalusia. Termasuk musik khas Andalusia yang menjadi penyedap kejayaan era Islam di masa itu. Pada abad ke 15, jenis musik ini menyeberang ke daratan Afrika utara. Bersama dengan Libya, Algeria dan Maroko, Tunisia turut serta mengimpor musik yang kental dengan Nafas keislaman tersebut. Dalam perkembangannya, malouf sangat digemari oleh penduduk setempat. Dengan penduduk yang mayoritas beragama muslim, menjadikan malouf mudah diterima. Tak heran kalau musik tersebut menjelma menjadi musik khas Tunisia dalam beberapa kurun terakhir.

Dalam musik seorang harus berpikir dengan hati, dan merasakan dengan otak. Meskipun berasal dari Andalusia, perasaan dan kreatifitas penduduk lokal dalam hal ini suku Berber mempengaruhi irama malouf. Tak hanya berhenti di situ, jangan lupa kalau kekaisaran Ottoman pernah merajai daratan Tunisia. Perkembangan musik ini tak dapat dipisahkan dengan keberadaan bangsa Turki. Karena itu, beberapa irama musik malouf mirip dengan musik Turki klasik. Malouf yang sekarang agak berlainan dengan malouf yang dimainkan lebih dari 5 abad silam.

Gambaran malouf menyerupai qasidah. Dimainkan dengan beberapa orkestra yang terdiri dari biola, drum, sitars dan seruling. Malouf modern sangat kental dengan irama Berbernya. Akan tetapi kehadiran musik pop perlahan menenggelamkan kejayaan musik yang telah akrab di kalangan masyarakat Tunisia. Perjalanan musik ini memang telah mengalami pasang surut termasuk ketika kekaisaran Ottoman runtuh dan beralih ke tangan protektorat Perancis. Fase peralihan tersebut menyebabkan popularitas malouf menurun. Baru pada tahun 1934, upaya pelestarian musik ini digalakkan dengan mendirikan institut Rasyidia untuk membangunkan kembali malouf yang sempat tertidur dalam beberapa periode. Institut Rasyidia merupakan buah inspirasi dari presentase al-Darwish dan d’erlanger pada kongres Internasional dua tahun sebelumnya dengan tema musik bahasa arab. Sayangnya, d’erlanger yang mempunyai peran besar dalam revolusi musik Arab, meninggal dua bulan setelah kongres di tahun 1932 tersebut.

Kemunculan Rasyidia mendatangkan pengaruh besar dalam kelangsungan molouf termasuk perannya dalam merivisi lirik-lirik yang dianggap senonoh. Di samping membangun ruang kerja di kota Tunis, institut ini juga membantu dalam meningkatkan instrument pada tubuh malouf dengan harapan mampu menarik antusiame masyarakat nantinya.

Setelah Tunisia mengibarkan bendera kemerdekan di tahun 1957, Habib Burgiba yang menjadi Presiden pertama mempromosikan malouf sebagai bagian dari pemersatu bangsa Tunisia. Kemudian direktur dari orkestra Rasyidia mendapat kepercayaan untuk menulis lagu kebangsaan negera tersebut. Beliau adalah Saleh al-Mahdi yang juga diberi mandat untuk memimpin Departemen Musik dan Kebudayaan pada masa itu.

Meski tak setenar dengan K-Pop dari negeri Gingseng yang tengah menjangkiti sebagian kawula mudi Indonesia, musik malouf cukup dikenal oleh khalayak luas. Jelas, kedua jenis musik beda generasi tersebut tak dapat disandingkan. Namun orkestra malouf telah membuktikan pada dunia sebagai warisan budaya yang masih sejuk terdengung sampai abad ke-21.

“Jika esok Piala Dunia dilangsungkan di Tunisia, akankah orkestra malouf mengiringi lagu resmi Piala Dunia?” – menarik untuk dinantikan.

0 komentar:

Posting Komentar