Musik Tunisia (Malouf)
Tunisia adalah negara kecil yang terletak di belahan utara benua Afrika
dan tergolong kawasan Maghrib Arabi. Layaknya Negara-negara lain pada
umumya, negara ini juga memiliki keragaman budaya yang diwarisi secara
turun temurun dari para pendahulunya. Catatan mengenai malouf berawal
setelah penaklukan Spanyol di bawah kepemimpinan panglima perang Thariq
bin Ziyad yang kemudian namanya
diabadikan menjadi sebuah nama gunung “Giblatar” ( Jabal Thariq).
Setelah Spanyol takluk, Islam berkembang pesat di Andalusia. Termasuk
musik khas Andalusia yang menjadi penyedap kejayaan era Islam di masa
itu. Pada abad ke 15, jenis musik ini menyeberang ke daratan Afrika
utara. Bersama dengan Libya, Algeria dan Maroko, Tunisia turut serta
mengimpor musik yang kental dengan Nafas keislaman tersebut. Dalam
perkembangannya, malouf sangat digemari oleh penduduk setempat. Dengan
penduduk yang mayoritas beragama muslim, menjadikan malouf mudah
diterima. Tak heran kalau musik tersebut menjelma menjadi musik khas
Tunisia dalam beberapa kurun terakhir.
Dalam musik seorang
harus berpikir dengan hati, dan merasakan dengan otak. Meskipun berasal
dari Andalusia, perasaan dan kreatifitas penduduk lokal dalam hal ini
suku Berber mempengaruhi irama malouf. Tak hanya berhenti di situ,
jangan lupa kalau kekaisaran Ottoman pernah merajai daratan Tunisia.
Perkembangan musik ini tak dapat dipisahkan dengan keberadaan bangsa
Turki. Karena itu, beberapa irama musik malouf mirip dengan musik Turki
klasik. Malouf yang sekarang agak berlainan dengan malouf yang dimainkan
lebih dari 5 abad silam.
Gambaran malouf menyerupai qasidah.
Dimainkan dengan beberapa orkestra yang terdiri dari biola, drum, sitars
dan seruling. Malouf modern sangat kental dengan irama Berbernya. Akan
tetapi kehadiran musik pop perlahan menenggelamkan kejayaan musik yang
telah akrab di kalangan masyarakat Tunisia. Perjalanan musik ini memang
telah mengalami pasang surut termasuk ketika kekaisaran Ottoman runtuh
dan beralih ke tangan protektorat Perancis. Fase peralihan tersebut
menyebabkan popularitas malouf menurun. Baru pada tahun 1934, upaya
pelestarian musik ini digalakkan dengan mendirikan institut Rasyidia
untuk membangunkan kembali malouf yang sempat tertidur dalam beberapa
periode. Institut Rasyidia merupakan buah inspirasi dari presentase
al-Darwish dan d’erlanger pada kongres Internasional dua tahun
sebelumnya dengan tema musik bahasa arab. Sayangnya, d’erlanger yang
mempunyai peran besar dalam revolusi musik Arab, meninggal dua bulan
setelah kongres di tahun 1932 tersebut.
Kemunculan Rasyidia
mendatangkan pengaruh besar dalam kelangsungan molouf termasuk perannya
dalam merivisi lirik-lirik yang dianggap senonoh. Di samping membangun
ruang kerja di kota Tunis, institut ini juga membantu dalam meningkatkan
instrument pada tubuh malouf dengan harapan mampu menarik antusiame
masyarakat nantinya.
Setelah Tunisia mengibarkan bendera
kemerdekan di tahun 1957, Habib Burgiba yang menjadi Presiden pertama
mempromosikan malouf sebagai bagian dari pemersatu bangsa Tunisia.
Kemudian direktur dari orkestra Rasyidia mendapat kepercayaan untuk
menulis lagu kebangsaan negera tersebut. Beliau adalah Saleh al-Mahdi
yang juga diberi mandat untuk memimpin Departemen Musik dan Kebudayaan
pada masa itu.
Meski tak setenar dengan K-Pop dari negeri
Gingseng yang tengah menjangkiti sebagian kawula mudi Indonesia, musik
malouf cukup dikenal oleh khalayak luas. Jelas, kedua jenis musik beda
generasi tersebut tak dapat disandingkan. Namun orkestra malouf telah
membuktikan pada dunia sebagai warisan budaya yang masih sejuk
terdengung sampai abad ke-21.
“Jika esok Piala Dunia
dilangsungkan di Tunisia, akankah orkestra malouf mengiringi lagu resmi
Piala Dunia?” – menarik untuk dinantikan.
Minggu, 15 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar